BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan
fisik, mental dan sosial secara utuh tidak semata-mata bebas dari penyakit atau
kecacatan dalam suatu hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi dan
prosesnya. (Dwi Maryanti, 2009: hal.4). Kesehatan
reproduksi berdampak panjang. Keputusan-keputusan yang berkaitan dengan
kesehatan reproduksi mempunyai konsekuensi atau akibat jangka panjang dalam
perkembangan dan kehidupan sosial. (Intan Kumalasari, 2012: hal.13). Kesehatan reproduksi juga
mengimplikasikan seseorang berhak atas kehidupan seksual yang memuaskan dan
aman. Seseorang berhak terbebas dari kemungkinan tertulari penyakit yang dapat
berpengaruh pada organ reproduksi, dan terbebas dari paksaan. (Marmi, 2013: hal.5)
Setiap
wanita beresiko terkena kanker. Kanker masih merupakan masalah kesehatan global
yang mengancam penduduk dunia tanpa memandang ras, gender, ataupun status
sosial tertentu. Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah
serviks (leher rahim) sebagai akibat adanya pertumbuhan jaringan yang tidak
terkontrol dan merusak jaringan normal disekitarnya. Di dunia, setiap 2 menit
seorang perempuan meninggal akibat kanker serviks, sedangkan di Indonesia
setiap 1 jam seorang perempuan meninggal karena kanker serviks. Kanker serviks
disebabkan oeh human papiloma virus atau
yang lebih dikenal dengan virus HPV, biasanya terjadi pada perempuan usia
subur. HPV ditularkan melalui hubungan seksual dan ditemukan pada 95% kasus
kanker mulut rahim. Infeksi HPV dapa menetap menjadi displasia atau sembuh
secara sempurna. (Intan Kumalasari, 2012: hal.88).
Upaya
untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit dalam masyarakat melalui
deteksi dini dan pengobatan keadaan belum terdapat sympton atau gejala. Skrining
merupakan upaya untuk meningkatkan kesehatan reproduksi wanita sepanjang daur
hidup kehidupannya meliputi sejarah, perkembangan wanita dalam aspek biologis,
psikososial dan sosial spritual, kesehatan reproduksi dalam perspektif gender,
permasalahannya serta indikator status kesehatan wanita. (Marmi, 2013: hal.265)
Skrining
yang dapat dilakukan dalam upaya pencegahan terjadinya kanker serviks adalah
Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) tes. IVA tes merupakan pemeriksaan
leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang)
leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5%.
(Marmi, 2013: hal. 270). Pemeriksaan IVA tes merupakan pemeriksaan skrining
alternatif dari papsmear karena biasanya murah, praktis dan sangat mudah
dilakukan dan peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan
selain dokter ginekologi. (Marmi, 2013: hal.271)
Menurut
WHO (World Health Organozation)
kanker serviks merupakan penyebab kematian nomor dua bagi kaum perempuan dari
seluruh penyaki kanker yang ada. Dan setiap dua menit seorang wanita meninggal
akibat penyakit ini (Samadi, 2011. Hal 15). Menurut data WHO setiap tahun
jumlah penderita kanker bertambah mencapai 6.250.000 jiwa. Dan dalam 10 tahun
mendatang, diperkirakan akan ada 9.000.000 jiwa meninggal setiap tahun akibat
kanker. Dua pertiga dari penderita kanker didunia akan berada di negara-negara
yang berkembang.
Kasus
penyakit tidak menular di Jawa Tengah pada tahun 2014 di proposikan sebagai
berikut : hipertensi 57,89%, diabetes mellitus 16,53%, asma 11,61%, jantung
4,77%, psikosis 3,53%, stroke 2,32%, PPOK 2,14%, dan kanker 1,23%. (Profil
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2014). Jumlah kematian penyakit tidak
menular di Kota Semarang pada tahun 2014 sebanyak 2409 kasus. Terdapat beberapa
penyebabnya antara lain akibat hipertensi 423 kasus, diabetes mellitus 187
kasus, dan kanker sebanyak 42 kasus. Kanker serviks menduduki urutan kelima
sebanyak 13,6% setelah Infark Miokard Akut (IMA), Ca Bronkitis. Terdapat 353
kasus kanker serviks dan 46 orang diantaranya meninggal pada tahun 2014, jumlah
ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2013 terdapat 529
kasus kanker serviks dan 78 orang diantaranya meninggal. (Profil Dinas
Kesehatan Kota Semarang, 2014)
Jumlah
kematian akibat kanker serviks dari 37 puskesmas pada tahun 2014 di kota
Semarang sebanyak 21 kasus, jumlah ini
mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2013 sebanyak 20 kasus.
Sosialisasi
IVA tes di kota Semarang yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan kota Semarang baru
mencakup 13 puskesmas dari total keseluruhan 37 puskesmas. Data yang didapatkan
sampai dengan bulan April 2015 sebanyak 185 wanita usia subur yang sudah
dilakukan pemeriksaan IVA tes ini, 41 orang diantaranya menunjukan hasil IVA
Tes (+). Kasus kanker serviks sebanyak
16 kasus sampai dengan bulan April 2015. (Departemen Kesehatan Kota Semarang,
2014)
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah Kebijakan Program Pencegahan Dan
Penanggulangan Kanker Serviks ?
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui kebijakan
progrsm pencegahan dan penanggulangan kanker serviks.
2.
Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui penemuan dan tata
laksana penderita
b.
Untuk mengetahui pencegahan dan
penanggulangan faktor resiko
c.
Untuk mengetahui peningkatan imunisasi
HPV untuk mencegah terjadinya kanker serviks
d.
Untuk mengetahui peningkatan surveilance
epidemiologi
e.
Untuk mengetahui KIE pencegahan dan
penanggulangan penyakit.
D.
Manfaat
1. Bagi
Bidan
Dapat memantau penatalaksanaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) tes dalam upaya deteksi dini terjadinya kanker
serviks.
2. Bagi
Instansi
Dapat dijadikan referensi bacaan guna memperluas wawasan
mahasiswa tentang Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) tes.
3. Bagi
masyarakat
Sebagai tambahan pengetahuan dan salah satunya untuk
meningkatkan pengetahuan khususnya
tentang pengertian dan manfaat Inspeksi Visual dengan Asam Asetat
(IVA) tes.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Kanker Serviks
1.
Pengertian Kanker Serviks
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas yang tumbuh di dalam
leher rahim/ serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak
vagina). Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari
kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya
berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju
didalam leher rahim. (Aden Ranggiasaka, 2010: hal. 74)

Gambar 2.1
Penampang Kanker Serviks
(Imam Rasjidi , 2009 : hal 97)
Kanker serviks adalah kanker ketiga yang dijumpai pada sistem reproduksi
wanita. Kanker serviks dapat diklasifikasikan menjadi preinvasif dan invasif.
Kanker serviks preinvasif, berkisar dari perubahan abnormal minimal dari
leher rahim sampai perubahan sel-sel
kanker yang menutupi leher rahim secara abnormal. Kanker serviks invasif
terjadi bila sel-sel kanker menembus kebagian terdalam dari jaringan leher
rahim dan tersebar langsung ke organ didalam kandung pelvis atau secara
langsung ke organ yang jauh melalui pembuluh getah bening. Pada kanker dini,
sel kanker menggandakan diri dan kemudian pelan pelan mendesak keluar sel sel
normal leher rahim. Jika sel kanker tersebut tidak dihentikan cukup awal
sel-sel tersebut akan maju ke saluran getah bening (suatu jaringan saluran yang
menyalurkan sel kekebalan keseluruh tubuh). Sel kekebalan ini yang mempunyai
pekerjaan melawan di berbagai infeksi, bakeri, virus atau keganasan yang
memasuki tubuh. Tetapi, saluran getah bening ini juga dapat digunakan untuk
menyebarkan diri mereka sendiri keseluruh tubuh dan semakin menyebar sel
kankernya, sehingga semakin sulit menghilangkannya.
Pertumbuhan kanker serviks ini disebut dengan stadium. Semakin tinggi
tingkat stadium maka semakin tinggi pula tingkat keganasan kanker. Dan harapan
untuk hiudp semakin tipis. Stadium yang dipakai adalah stadium klinik menurut The International Federation of Ginecology
and Obstetric (FIGO). Untuk lebih
detailnya, perhatikan klasifikasi kanker serviks berdasarkan stadium berikut :
Tabel 2.1 Stadium Kanker Serviks
(Imam
Rasjidi , 2009 : hal 97)
|
Stadium FIGO
|
Kategori
|
|
0
I
IA
IA1
IA2
IB
IB1
IB2
II
IIA
IIB
III
IIIA
IIIB
IVA
IVB
|
Tumor primer
tidak bisa digambarkan
Tidak ada bukti adanya tumor primer
Karsinoma In Situ ( preinvasive carcinoma)
Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan
kekorpus uteri.
Karsinoma mikroinvasif
Kedalaman invasi stroma tidak lebih dari 3 mm dan
perluasan horizontal tidka lebih dari 7 mm.
Kedalaman invasi stroma lebih dari 3 mm dan tidak lebih
dari 5 mm dan perluasan horizontal 7 mm atau kurang.
Secata klinis sudah diduga adanya tumor mikrokoskopik
lebih dari IA2
Secara klinis lesi berukuran 4 cm atau kurang pada
dimensi terbesar.
Secara klinis lesi berukuran lebih dari 4 cm pada dimensi terbesar.
Tumor menyebar keluar daerah serviks , tetapi tidak
sampai dinding panggul atau sepertiga bagian bawah vagina.
Tanpa invasi parametrium
Dengan invasi parametrium
Tumor menyebar ke dinding panggul dan atau sepertiga
bawah vagina yang menyebabkan hidronefrosis atau penurunan fungsi ginjal.
Tumor menyebar sepertiga bagian bawah vagina tetapi
tidak sampai ke dinding panggul
Tumor menyebar ke dinding panggul menyebabkan penurunan
fungsi ginjal.
Tumor menginvasi mukosa buli buli atau rektum dan
keluar panggul
Metastase jauh.
|

Gambar 2.2 Macam-Macam Stadium Kanker Serviks
(Marmi, 2013: hal 270)
2.
Etiologi
Penyebab dari kanker serviks adalah
infeksi dari Human Papiloma Virus (HPV),
biasanya terjadi pada perempuan usia subur. HPV ditularkan melalui hubungan
seksual dan ditemukan pada 95% kasus kanker mulut rahim. Infkesi HPV dapat menetap menjadi displasia atau sembuh
secara sempurna.
Terdapat sekitar 200 tipe HPV yang sudah teridentifikasi dan terdapat 100
tipe HPV yang dapat menginfeksi manusia. HPV digolongkan menjadi dua bagian,
yaitu sebagai berikut :
a. HPV risiko tinggi menyebabkan kanker (onkogenik) yaitu :
tipe 16,18, 31,33,45,52, dan 58. Sebanyak 70% dari kanker serviks disebabkan
oleh HPV 16 dan 18.
b. HPV risiko renah yaitu tipe 6,11,32,42,43,dan 44 hanya
menyebabkan kutil kelamin yang jinak.

Gambar 2.3 Virus Human Papiloma Virus
(Imam
Rasjidi , 2009 : hal 146)
Proses terjadinya kanker serviks berhubungan erat dengan
proses metaplasia yaitu masuknya mutagen ( bahan-bahan yang dapat merubah
parangai sel secara genetik). Pada fase aktif metaplasia dapat berubah menjadi
sel yang berpotensi ganas. Perubahan ini biasanya terjadi di zona transformasi.
Sel yang mengalami mutasi disebut sel displastik dari kelainan epitelnya
disebut displasia).(Neoplasia
Intra-epitel Serviks/ NIS)
Berikut adalah tahapan perkembangan kanker serviks.
1)
Displasia (ringan,
sedang, berat). Lesi displasia sering disebut dengan “lesi pra kanker”, yaitu
kelainan pertumbuhan sel yang perkembangannya sangat lambat.
2)
Displasia kemudian
berkembang menjadi karsinoma in-situ (kanker
yang belum menyebar)
3)
Akhirnya menjadi karsinoma invasif (kanker yang dapat
menyebar). Perkembangan displasia menjadi kanker membutuhkan waktu
bertahun-tahun (7-15 tahun).
3.
Faktor Resiko
Beberapa faktor risiko dan predisposisi yang menyebabkan
perempuan terpapar HPV (sebagai etiologi kanker serviks) diantaranya adalah
sebagai berikut :
a.
Menikah atau
memulai aktivitas seksual pada usia muda. Penelitian menunjukan bahwa semakin
muda perempuan melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker
serviks.
b.
Jumlah kehamilan
dan partus. Kanker serviks terbanyak dijumpai pada perempuan yang sering
partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan tidak mendapat
karsinoma serviks.
c.
Perilaku seksual.
Berdasarkan penelitian, risiko kanker serviks meningkat lebih 10 kali bila berhubungan
dengan enam atau lebih mitra seks, atau bila hubungan seks pertama dibawah usia
15 tahun. Risiko juga meningkat bila berhubungan seks dengan laki laki beresiko
tinggi (laki-laki yang berhubungan seks dengan banyak perempuan), atau
laki-laki yang mengidap penyakit “jengger ayam” (kondiloma akuminatum) di
zakarnya (penis).
d.
Riwayat infeksi
didaerah kelamin dan radang panggul. Infeksi menular seksual (IMS) dapat
menjadi peluang meningkatnya risiko terkena kanker serviks.
e.
Sosial ekonomi.
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan ekonomi rendah mungkin faktor
sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas, dan kebersihan
perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan
kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
f.
Higiene dan
sirkumsisi. Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kanker serviks pada
perempuan yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non
sirkumsisi, higiene penis tidak terawat sehingga banyak terdapat kumpulan
smegma.
g.
Merokok. Didalam
rokok terkandung nikotin dan zat lainnya yang terdapat didalam rokok. Zat-zat
tersebut dapat menurunkan daya tahan serviks dan menyebabkan kerusakan DNA
epitel serviks sehingga timbul kanker serviks.
h.
Pemakaian alat
kontrasepsi
i.
Defisiensi zat gizi.
Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan
resiko terjadinya NIS1 dan NIS2, serta mungkin juga meningkatkan risiko terkena
kanker serviks pada wanita yang rendah konsumsi beta karoten dan vitamin (A,C
dan E). (Intan Kumalasari, 2012 : hal 88)
4.
Gejala
Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak
menimbulkan gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita
tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan pap smear. Gejala biasanya baru
muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup
ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala sebagai berikut :
a.
Perdarahan vagina
yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah melakukan hubungan
seksual dan setelah menopause.
b.
Menstruasi abnormal
(lebih banyak dan lebih lama)
c.
Keputihan yang
menetap, dengan cairan yang encer , berwarna pink, coklat, mengandung darah
atau hitam serta berbau busuk.
Gejala dari kanker serviks stadium lanjut :
a.
Nafsu makan
berkurang, penurunan berat badan, kelelahan.
b.
Nyeri panggul,
punggung atau tungkai
c.
Dari vagina keluar
air kemih atau tinja
d.
Patah tulang
(fraktur) (Aden Ranggiasanka, 2010: hal 77)
5.
Keadaan Prekanker Pada Serviks
Sel sel pada permukaan serviks kadang tampak abnormal tetapi tidak ganas.
Para ilmuwan yakin bahwa beberapa perubahan abnormal pada sel –sel serviks
merupakan langkah awal dari serangkaian perubahan yang berjalan lambat, yang
beberapa tahun kemudian bisa menyebabkan kanker. Karena itu beberapa perubahan
abnormal merupakan keadaan pre kanker, yang bisa berubah menjadi kanker.
Saat ini telah digunakan istilah yang berbeda untuk perubahan abnormal pada
sel-sel di permukaan serviks, salah satu diantaranya adalah lesi skuamosa
intraepitel (lesi artinya kelainan jaringan, intraepitel artinya sel sel
abnormal hanya ditemukan dilapisan permukaan).
Perubahan pada
sel-sel ini bisa dibagi kedalam 2 kelompok :
a.
Lesi tingkat rendah
: merupakan perubahan dini pada ukuran, bentuk dan jumlah sel yang membentuk
permukaan serviks. Beberapa lesi tingkat rendah menghilang dengan sendirinya.
Tetapi yang lainnya tumbuh menjadi lebih besar dan lebih abnormal, membentuk
lesi tingkat tinggi. Lesi tingkat rendah juga disebut displasia ringan atau
neoplasia intraepitel servikal 1 (NIS1). Lesi tingkat rendah paling sering
ditemukan pada wanita yang berusia 25-35 tahun, tetapi juga bisa terjadi pada
smeua kelompok umur.
b.
Lesi tingkat tinggi
: ditemukan sejumlah besar sel prekanker yang tampak sangat berbeda dari sel
yang normal. Perubahan prekanker ini hanya terjadi pada sel dipermukaan
serviks. Selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sel-sel tersebut tidak
akan menjadi ganas dan tidak akan menyusup kelapisan serviks yang lebih dalam.
Lesi tingkat tinggi juga disebut displasia menengah atau displasia berat , NIS
2 atau 3, atau karsinoma in situ. Lesi tingkat tinggi paling sering ditemukan
pada wanita yang berusia 30-40 tahun
Jika sel-sel abnormal menyebar lebih kedalam serviks atau
kejaringan maupun organ lainnnya, maka keadaannya disebut kanker serviks atau
kanker serviks invasif. Kanker serviks paling sering ditemukan pada usia 40
tahun. (Aden Ranggiasanka, 2010: hal 76).

Gambar 2.4
Perbedaan Serviks Norml dan Terdapat Lesi Prakanker
(Imam
Rasjidi , 2009 : hal 116)
6.
Pencegahan dan Deteksi Dini
Bagi wanita semua umur, membatasi jumlah pasangan seks
dan penggunaan kontrasepsi penghalang, seperti kondom dan diafrgama, sangat
dianjurkan untuk mnegurangi terjadinya kanker serviks. Modifikasi pola makan
yang dapat mengurangi resiko kanker serviks di antaranya dengan mengkonsumsi
makanan yang banyak mengandung vitamin a dan c serta asam folat. Selain itu
dengan menghentikan tembakau dan alkohol (Shirley,
2005: hal 158).
Menurut Faisah dalam buku Waspada Kanker Serviks, vaksin
merupakan pencegahan kanker serviks yang baik. Bagi wanita yang belum pernah
berhubungan seks, atau anak-anak perempuan yang ingin terbentengi dari serangan
virus HPV, bisa menjalani vaksinasi HPV. Vaksin HPV dapat mencegah infeksi HPV
tipe 16 dan tipe 18. Dan dapat diberikan mulai dari usia 9-26 tahun, dalam
bentuk suntikan sebanyak 3 kali (0-2-6)
Pencegahan kanker serviks merupakan tindakan preventif
sekunder, yaitu deteksi lesi prakanker
melalui test pap amear, serta Inspeksi Visual
dengan Asam Asetat (IVA) dan rangkaian tindak lanjut, misalnya
pemeriksaan kolposkopi dan biopsi. Berikut akan dijelaskan lebih rinci
pemeriksaan tersebut :
a.
Test Pap Smear
Tes Pap smear
adalah salah satu deteksi dini terhadap kanker serviks yang sering dilakukan.
Pada prinsipnya , pap semar adalah mengambil sel epitel yang ada di leher rahim
yang kemudian dilihat kenormalannya.
b.
Tes Pap Smear
metode SSBC/LBC (Sutologi Serviks Berbasis Cairan/Liquid Base Cytology)
Pemeriksaan
seperti ini seperti pemeriksaan pap smear. Hasil pengambilan sel sel mulut
rahim dilarutkan lebih dulu pada suatu cairan, kemudian dibuat hapusan dan
dibaca dibawah mikroskop. Dengan tekhnik baru ini, keakuratan hasil pemeriksaan
lebih tinggi walaupun biayanya lebih mahal.
c.
Inspeksi Visual
dengan Asam Asetat (IVA)
Metode IVA ini
sangat cocok di aplikasikan di negara berkembang karena selain lebih mudah,
murah, efektif, tidak invasif, juga dapat dilakukan langsung oleh dokter, bidan
atau paramedis. Hasilnya pun bisa didapat dan sensitivitas serta spesifitasnya
cukup baik. Alat yang diperlukan sangat sederhana, yaitu spekulum vagina, asam
asetat 3-5%, kapas lidi, meja pemeriksaan, sarung tangan bersih (lebih baik
steril) dan dilakukan pada kondisi ruag yang terang atau cukup cahaya.
Pemeriksaan IVA ini merupakan program skrinning untuk menemukan tahap prekanker
serviks. Hal ini penting karena sampai saat ini masih banyak ditemukan kanker
serviks pada stadium lanjut. (Samadi, 2011;
hal.38).
d.
Kolposkopi
Kolposkopi
adalah pemeriksaan mulut rahim dengan kamera pembesaran untuk mendeteksi serta
melakukan tindakan terapi pada pasien dengan kanker serviks uteri. Dan hasil
kolposkopi ini bisa dicetak untuk dokumen medis. (Samadi, 2011: hal.29-40).
7.
Pengobatan Kanker Serviks
a.
Pengobatan Lesi
Prekanker
Pengobatan
lesi prekanker pada serviks tergantung beberapa faktor berikut :
1)
Tingkatan lesi (
apakah tingkat rendah atau tinggi)
2)
Rencana penderita
untuk hamil lagi
3)
Usia dan keadaan
umum penderita
Lesi tingkat rendah biasanya tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut,
terutama jika daerah yang abnormal seluruhnya telah diangkat pada waktu
pemeriksaan biopsi. Tetapi penderita harus memeriksakan secara rutin.
Pengobatan
pada lesi prakanker bisa berupa :
1)
Kriosurgeri (pembekuan)
2)
Kauterisasi (pembakaran
juga disebut diatermi)
3)
Pembedahan laser
untuk menghancurkan sel sel yang abnormal tanpa melukai jaringan yang sehat dan
sekitarnya
4)
LEEP ( loop electrosurgical excision prosedure)atau
konisasi
Setelah menjalani pengobatan, penderita mungkin akan merasakan kram atau
nyeri lainnya, perdarahan maupun cairan encer dari vagina. Pada beberapa kasus
mungkin perlu dilakukan histeroktomi (pengangkatan
rahim) terutama jika sel-sel abnormal ditemukan didalam lubang serviks.
Histerektomi dilakukan jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi.
b.
Pengobatan untuk
Kanker Serviks
Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada lokasi dan
ukuran tumor, stadium penyakit, usia keadaan umum penderita dan rencana
penderita untuk hamil lagi.
1)
Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling
luar). Seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah
ataupun dengan melalui LEEP. Dnegan pengobatan tersebut , penderita masih bisa
memiliki anak. Karena kanker dapat kambuh, dianjurkan untuk menjalani
pemeriksaan ulang setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap
6 bulan. Jika penderita tidak ada rencana untuk hamil lagi dianjurkan untuk
menjalani histerektomi.
Pada kanker invasif, dilakukan histerektomi dan pengangkatan struktur
disekitarnya (histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening. Pada wanita
muda ovarium yang normal dan masih berfungsi tidak diangkat.
2)
Terapi penyinaran
Terapi penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker invasif yang
masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi
tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya.
Ada dua macam radioterapi :
a)
Radiasi eksternal :
sinar berasal dari sebuah mesin besar. Penderita tidak perlu dirawat dirumah
sakit. Penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu.
b)
Radiasi internal :
zat radioaktif didalam sebuah kapsul dimasukkan langsung kedalam serviks.
Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat dirumah
sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2 minggu.
Efek samping
penyinaran adalah :
(1)
Iritasi rektum dan
vagina
(2)
Kerusakan kandung
kemih dan rektum
(3)
Ovarium berhenti
berfungsi
3)
Kemoterapi
Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan untuk menjalani kemoterapi. Pada kemoterapi
digunakan obat-obatan untuk membunuh sel sel kanker. Obat anti kanker bisa
diberikan melalui suntikan intravena atau melalui mulut. Kemoterapi diberikan
dalam suatu siklus, artinya suatu periode pengobatan diselingi dengan periode
pemulihan, lalu dilakukan pengobatan diselingi dengan pemulihan, begitu
seterusnya.
4)
Terapi Biologis
Pada terapi biologis digunakan zat-zat
untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh dengan melawan penyakit. Terapi
biologis dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Yang paling sering dilakukan adalah interferon, yang biasa dikombinasikan
dengan kemoterapi. (Taufan Nugroho, 2014 :hal 6-8)
B.
Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) Test
1.
Pengertian Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA)Test
IVA singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam
Asetat, yaitu suatu metode pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim
menggunakan lidi wotten yang telah dicelupkan kedalam asam asetat/asam cuka
3-5% dengan mata telanjang. Daerah yang tidak normal akan berubah menjadi putih
(acetowhite) dengan batas yang tegas,
dan mengindikasikan bahwa serviks mungkin memiliki lesi prakanker. Jika tidak
ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks. (Intan
Kumalasari, 2012 : hal 96)
Kriteria pemeriksaan IVA atau hasil pemeriksaan IVA
dikelompokkan sebagai berikut :
a.
IVA negatif =
menunjukkan leher rahim normal.
b.
IVA radang =
serviks dengan radang ( servisitis), atau kelainan jinak lainnya (polip
serviks).
c.
IVA positif =
ditemukan bercak putih. Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan skrinning
kanker serviks dengan metode IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis
serviks – pra kanker (displasia ringan-sedang-berat atau kanker in situ)
d.
IVA-kanker serviks
= pada tahap ini pun , untuk upaya penurunan temuan stadium kanker serviks,
masih akan bermanfaat bagi penurunan kematian akibat kanker serviks bila
ditemukan masih pada stadium invasif dini ( stadium IB dan IIA) . (Marmi, 201:
hal 273-274).
Pemeriksaan IVA dianjurkan untuk fasilitas dengan sumber
daya yang rendah bila dibandingkan dengan jenis skrinning yang lain, karena :
a.
Mudah dilakukan,
aman, dan tidak mahal
b.
Akurasinya sama
dengan tes tes yang lain
c.
Dapat dipelajari
dan dilakukan oleh hampir semua tenaga kesehatan yang sudah terlatih
d.
Dapat dilakukan
disemua jenjang pelayanan kesehatan (rumahsakit, puskesmas, pustu, polindes,
dan klinik dokter spesialis, dokter umum dan bidan)
e.
Langsung ada
hasilnya sehingga dapat segera dilakukan pengobatan dengan krioterapi yaitu
dengan pembekuan serviks berupa penerapan pendinginan secara terus menerus
selama 3 menit untuk membekukan (freeze)
dan diikuti dengan pencairan selama 5 menit, kemudian diikuti dengan pembekuan
lagi selama 3 menit dengan menggunakan CO2 atau NO2
sebagai pendingin
f.
Sebagian besar
peralatan dan bahan untuk pelayanan mudah didapat
g.
Tidak bersifat
invasif dan dapat mengidentifikasikan lesi prakanker secara efektif. (Intan
Kumalasari, 2012: hal. 97)
2.
Tujuan IVA
Untuk
mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap
kasus-kasus yang ditemukan. Untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada leher
rahim. (Marmi, 2013: hal. 271)
3.
Keuntungan IVA
a.
Mudah, praktis dan
mampu laksana
b.
Dapat dilakukan
oleh seluruh tenaga kesehatan
c.
Alat-alat yang
dibutuhkan sederhana
d.
Sesuai untuk pusat
pelayanan sederhana
e.
Kinerja tes sama
dengan tes lain
f.
Memberikan hasil
segera sehingga dapat diambil keputusan mengenai penatalaksanaannya. (Marmi,
2013: hal. 271)
4.
Jadwal IVA
a.
Skrining pada
setiap wanita minimal 1 kali pada usia 35-40 tahun.
b.
Kalau fasilitas
memungkinkan lakukan tiap 10 tahun pada usia 35-55 tahun.
c.
Kalau fasilitas
tersedia lebih lakukan tiap 5 tahun pada usia 35-55 tahun
d.
Ideal dan optimal
pemeriksaan dilakukan setiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun’
e.
Skrining yang
dilakukan sekali dalam 10 tahun atau sekali seumur hidup memiliki dampak yang
cukup significant.
f.
Di Indonesia
anjuran untuk melakukan IVA bila hasil positif (+) adalah 1 tahun dan bila
hasil negatif (-) adalah 5 tahun. (Marmi, 2013: hal. 271)
5.
Syarat Mengikuti Tes IVA
a.
Sudah pernah
melakukan hubungan seksual
b.
Tidak sedang datang
bulan atau haid
c.
Tidak sedang hamil
d.
24 jam sebelumnya
tidak melakukan hubungan seksual. (Marmi, 2013: hal. 272)
6.
Penilaian Klien
Tanyakan
riwayat singkat kesehatan reproduksinya, antara lain :
a.
Riwayat Menstruasi
(usia < 12 tahun)
b.
Pola pendarahan
(misal pasca koitus atau menstruasi tidak teratur)
c.
Paritas
d.
Usia pertama kali
berhubungan seksual
e.
Penggunaan alat
kontrasepsi
7.
Pelaksanaan Skrinning IVA
a.
Untuk melaksanakan
skrinning dengan metode IVA, dibutuhkan tempat dan alat sebagai berikut :
1)
Ruangan tertutup,
karena pasien diperiksa dengan posisi litotomi.
2)
Meja atau tempat
tidur periksa yang memungkinkan pasien berada pada posisi litotomi.
3)
Terdapat sumber
cahaya untuk melihat serviks
4)
Spekulum vagina
5)
Asam asetat (3-5%)
6)
Swab- lidi berkapas
7)
Sarung tangan.
b.
Cara kerja IVA
1)
Sebelum dilakukan
pemeriksaan pasien akan mendapat penjelasan mengenai prosedur yang akan
dijalankan . privasi dan kenyamanan sangat penting dalam pemeriksaan ini.
2)
Pasien dibaringkan
dengan posisi litotomi ( berbaring dengan dengkul ditekuk dan kaki melebar).
3)
Vagina akan dilihat
secara visual apakah ada kelainan dengan bantuan pencahayaan yang cukup.
4)
Spekulum (alat
pelebar) akan dibasuh dengan air hangat dan dimasukkan ke vagina pasien secara
tertutup , lalu dibuka untuk melihat leher rahim.
5)
Bila terdapat
banyak cairan di leher rahim, dipakai kapas steril basah untuk menyerapnya.
6)
Dengan menggunakan
pipet atau kapas, larutan asam asetat (3-5%) diteteskan keleher rahim. Dalam
waktu satu menit , reaksinya pada leher rahim sudah dapat dilihat.
7)
Bila warna leher
rahim berubah menjadi keputih-putihan, kemungkinan positif terdapat kanker.
Asam asetat berfungsi menimbulkan dehidrasi sel yang membuat penggumpalan
protein , sehingga sel kanker yang berkepadatan protein tinggi berubah warna
merah jadi putih.
8)
Bila tidak
didapatkan gambaran epitel putih pada daerah transformasi berarti hasilnya
negatif.

Gambar 2.5 Mengusapkan Asam Asetat Menggunakan Swab Lidi
Berkapas
(Marmi, 2013 : hal 272)
c.
Penatalaksanaan IVA
1)
Pemeriksaan IVA
dilakukan dengan spekulum melihat langsung leher rahim yang telah dipulas
dengan larutan asam asetat (3-5%). Jika ada perubahan warna atau tidak muncul
plak putih, maka hasil pemeriksaan dinyatakan negatif. Sebaliknya jika leher
rahim berubah warna menjadi merah dan timbul plak putih, maka dinyatakan
positif lesi atau kelainan pra kanker.
2)
Namun jika masih
tahap lesi, pengobatan cukup mudah, bisa langsgung diobati dengan metode
krioterapi atau gas dingin yang menyemprotkan gas CO2 atau N2
ke leher rahim. Sensitivitasnya lebih dari 90% dan spesifitasinya sekitar 40%
dengan metode diagnosis yang hanya membutuhkan waktu sekitar dua mneit
tersebut, lesi prakanker bisa dideteksi secara dini. Dengan demikian bisa
segera ditangani dan tidak berkembang menjadi kanker stadium lanjut.
3)
Metode krioterapi
adalah membekukan serviks yang terdapat lesi prakanker pada suhu yang amat
dingin (dengan gas CO2) sehingga sel sel pada area tersebut mati dan
luruh, dan selanjutnya akan tumbuh sel-sel baru yang sehat.
4)
Kalau hasil dari
tes IVA dideteksi adanya lesi prakanker, yang terlihat dari adanya perubahan
dinding leher rahim dari merah muda menjadi warna putih, artinya perubahan sel
akibat infeksi tersebut baru terjadi disekitar epitel. Itu bisa dimatikan atau
dihilangkan dengan dibakar atau dibekukan. Dengan demikian, penyakit kanker
yang disebabkan human papiloma virus (HPV) itu tidak jadi berkembang dan
merusak organ tubuh yang lain.

Gambar 2.6 Atlas Inspeksi Visual Asam
Asetat
(Imam
Rasjidi , 2009 : hal 13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar