Kamis, 07 April 2016

Kebijakan Program Pencegahan Dan Penanggulangan Kanker Serviks



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial secara utuh tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam suatu hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya. (Dwi Maryanti, 2009: hal.4). Kesehatan reproduksi berdampak panjang. Keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi mempunyai konsekuensi atau akibat jangka panjang dalam perkembangan dan kehidupan sosial. (Intan Kumalasari, 2012: hal.13). Kesehatan reproduksi juga mengimplikasikan seseorang berhak atas kehidupan seksual yang memuaskan dan aman. Seseorang berhak terbebas dari kemungkinan tertulari penyakit yang dapat berpengaruh pada organ reproduksi, dan terbebas dari paksaan. (Marmi, 2013: hal.5)
Setiap wanita beresiko terkena kanker. Kanker masih merupakan masalah kesehatan global yang mengancam penduduk dunia tanpa memandang ras, gender, ataupun status sosial tertentu. Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah serviks (leher rahim) sebagai akibat adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal disekitarnya. Di dunia, setiap 2 menit seorang perempuan meninggal akibat kanker serviks, sedangkan di Indonesia setiap 1 jam seorang perempuan meninggal karena kanker serviks. Kanker serviks disebabkan oeh human papiloma virus atau yang lebih dikenal dengan virus HPV, biasanya terjadi pada perempuan usia subur. HPV ditularkan melalui hubungan seksual dan ditemukan pada 95% kasus kanker mulut rahim. Infeksi HPV dapa menetap menjadi displasia atau sembuh secara sempurna. (Intan Kumalasari, 2012: hal.88).
Upaya untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit dalam masyarakat melalui deteksi dini dan pengobatan keadaan belum terdapat sympton atau gejala. Skrining merupakan upaya untuk meningkatkan kesehatan reproduksi wanita sepanjang daur hidup kehidupannya meliputi sejarah, perkembangan wanita dalam aspek biologis, psikososial dan sosial spritual, kesehatan reproduksi dalam perspektif gender, permasalahannya serta indikator status kesehatan wanita. (Marmi, 2013: hal.265)
Skrining yang dapat dilakukan dalam upaya pencegahan terjadinya kanker serviks adalah Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) tes. IVA tes merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5%. (Marmi, 2013: hal. 270). Pemeriksaan IVA tes merupakan pemeriksaan skrining alternatif dari papsmear karena biasanya murah, praktis dan sangat mudah dilakukan dan peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi. (Marmi, 2013: hal.271)
Menurut WHO (World Health Organozation) kanker serviks merupakan penyebab kematian nomor dua bagi kaum perempuan dari seluruh penyaki kanker yang ada. Dan setiap dua menit seorang wanita meninggal akibat penyakit ini (Samadi, 2011. Hal 15). Menurut data WHO setiap tahun jumlah penderita kanker bertambah mencapai 6.250.000 jiwa. Dan dalam 10 tahun mendatang, diperkirakan akan ada 9.000.000 jiwa meninggal setiap tahun akibat kanker. Dua pertiga dari penderita kanker didunia akan berada di negara-negara yang berkembang.
Kasus penyakit tidak menular di Jawa Tengah pada tahun 2014 di proposikan sebagai berikut : hipertensi 57,89%, diabetes mellitus 16,53%, asma 11,61%, jantung 4,77%, psikosis 3,53%, stroke 2,32%, PPOK 2,14%, dan kanker 1,23%. (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2014). Jumlah kematian penyakit tidak menular di Kota Semarang pada tahun 2014 sebanyak 2409 kasus. Terdapat beberapa penyebabnya antara lain akibat hipertensi 423 kasus, diabetes mellitus 187 kasus, dan kanker sebanyak 42 kasus. Kanker serviks menduduki urutan kelima sebanyak 13,6% setelah Infark Miokard Akut (IMA), Ca Bronkitis. Terdapat 353 kasus kanker serviks dan 46 orang diantaranya meninggal pada tahun 2014, jumlah ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2013 terdapat 529 kasus kanker serviks dan 78 orang diantaranya meninggal. (Profil Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2014)
Jumlah kematian akibat kanker serviks dari 37 puskesmas pada tahun 2014 di kota Semarang sebanyak  21 kasus, jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2013 sebanyak 20 kasus.

Sosialisasi IVA tes di kota Semarang yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan kota Semarang baru mencakup 13 puskesmas dari total keseluruhan 37 puskesmas. Data yang didapatkan sampai dengan bulan April 2015 sebanyak 185 wanita usia subur yang sudah dilakukan pemeriksaan IVA tes ini, 41 orang diantaranya menunjukan hasil IVA Tes (+).  Kasus kanker serviks sebanyak 16 kasus sampai dengan bulan April 2015. (Departemen Kesehatan Kota Semarang, 2014)
B.     Rumusan Masalah
Bagaimanakah Kebijakan Program Pencegahan Dan Penanggulangan Kanker Serviks ?
C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui kebijakan progrsm pencegahan dan penanggulangan kanker serviks.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui penemuan dan tata laksana penderita
b.      Untuk mengetahui pencegahan dan penanggulangan faktor resiko
c.       Untuk mengetahui peningkatan imunisasi HPV untuk mencegah terjadinya kanker serviks
d.      Untuk mengetahui peningkatan surveilance epidemiologi
e.       Untuk mengetahui KIE pencegahan dan penanggulangan penyakit.
D.    Manfaat
1.      Bagi Bidan
      Dapat memantau penatalaksanaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) tes  dalam upaya deteksi dini terjadinya kanker serviks.
2.      Bagi Instansi
      Dapat dijadikan referensi bacaan guna memperluas wawasan mahasiswa tentang Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) tes.
3.      Bagi masyarakat
      Sebagai tambahan pengetahuan dan salah satunya untuk meningkatkan pengetahuan khususnya tentang pengertian dan manfaat Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) tes.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Kanker Serviks
1.      Pengertian Kanker Serviks
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/ serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina). Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju didalam leher rahim. (Aden Ranggiasaka, 2010: hal. 74)
               Description: img141
Gambar 2.1 Penampang Kanker Serviks
(Imam Rasjidi , 2009 : hal 97)

Kanker serviks adalah kanker ketiga yang dijumpai pada sistem reproduksi wanita. Kanker serviks dapat diklasifikasikan menjadi preinvasif dan invasif. Kanker serviks preinvasif, berkisar dari perubahan abnormal minimal dari leher  rahim sampai perubahan sel-sel kanker yang menutupi leher rahim secara abnormal. Kanker serviks invasif terjadi bila sel-sel kanker menembus kebagian terdalam dari jaringan leher rahim dan tersebar langsung ke organ didalam kandung pelvis atau secara langsung ke organ yang jauh melalui pembuluh getah bening. Pada kanker dini, sel kanker menggandakan diri dan kemudian pelan pelan mendesak keluar sel sel normal leher rahim. Jika sel kanker tersebut tidak dihentikan cukup awal sel-sel tersebut akan maju ke saluran getah bening (suatu jaringan saluran yang menyalurkan sel kekebalan keseluruh tubuh). Sel kekebalan ini yang mempunyai pekerjaan melawan di berbagai infeksi, bakeri, virus atau keganasan yang memasuki tubuh. Tetapi, saluran getah bening ini juga dapat digunakan untuk menyebarkan diri mereka sendiri keseluruh tubuh dan semakin menyebar sel kankernya, sehingga semakin sulit menghilangkannya.
Pertumbuhan kanker serviks ini disebut dengan stadium. Semakin tinggi tingkat stadium maka semakin tinggi pula tingkat keganasan kanker. Dan harapan untuk hiudp semakin tipis. Stadium yang dipakai adalah stadium klinik menurut The International Federation of Ginecology and Obstetric (FIGO). Untuk lebih detailnya, perhatikan klasifikasi kanker serviks berdasarkan stadium berikut :

Tabel 2.1 Stadium Kanker Serviks
(Imam Rasjidi , 2009 : hal 97)

Stadium FIGO
Kategori

              
0
I

IA
IA1

IA2

IB

IB1

IB2

II

IIA
IIB
III


IIIA

IIIB

IVA

IVB
Tumor  primer tidak bisa digambarkan
Tidak ada bukti adanya tumor primer
Karsinoma In Situ ( preinvasive carcinoma)
Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan kekorpus uteri.
Karsinoma mikroinvasif
Kedalaman invasi stroma tidak lebih dari 3 mm dan perluasan horizontal tidka lebih dari 7 mm.
Kedalaman invasi stroma lebih dari 3 mm dan tidak lebih dari 5 mm dan perluasan horizontal 7 mm atau kurang.
Secata klinis sudah diduga adanya tumor mikrokoskopik lebih dari IA2
Secara klinis lesi berukuran 4 cm atau kurang pada dimensi terbesar.
Secara klinis lesi berukuran lebih dari  4 cm pada dimensi terbesar.
Tumor menyebar keluar daerah serviks , tetapi tidak sampai dinding panggul atau sepertiga bagian bawah vagina.
Tanpa invasi parametrium
Dengan invasi parametrium
Tumor menyebar ke dinding panggul dan atau sepertiga bawah vagina yang menyebabkan hidronefrosis atau penurunan fungsi ginjal.
Tumor menyebar sepertiga bagian bawah vagina tetapi tidak sampai ke dinding panggul
Tumor menyebar ke dinding panggul menyebabkan penurunan fungsi ginjal.
Tumor menginvasi mukosa buli buli atau rektum dan keluar panggul
Metastase jauh.


  Description: img138
Gambar 2.2 Macam-Macam Stadium Kanker Serviks
(Marmi, 2013: hal 270)


2.      Etiologi
Penyebab dari kanker serviks  adalah infeksi dari Human Papiloma Virus (HPV), biasanya terjadi pada perempuan usia subur. HPV ditularkan melalui hubungan seksual dan ditemukan pada 95% kasus kanker mulut rahim. Infkesi HPV  dapat menetap menjadi displasia atau sembuh secara sempurna.
Terdapat sekitar 200 tipe HPV yang sudah teridentifikasi dan terdapat 100 tipe HPV yang dapat menginfeksi manusia. HPV digolongkan menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut :
a.       HPV risiko tinggi menyebabkan kanker (onkogenik) yaitu : tipe 16,18, 31,33,45,52, dan 58. Sebanyak 70% dari kanker serviks disebabkan oleh HPV 16 dan 18.
b.      HPV risiko renah yaitu tipe 6,11,32,42,43,dan 44 hanya menyebabkan kutil kelamin yang jinak.
          Description: img142
Gambar 2.3 Virus Human Papiloma Virus
          (Imam Rasjidi , 2009 : hal 146)

Proses terjadinya kanker serviks berhubungan erat dengan proses metaplasia yaitu masuknya mutagen ( bahan-bahan yang dapat merubah parangai sel secara genetik). Pada fase aktif metaplasia dapat berubah menjadi sel yang berpotensi ganas. Perubahan ini biasanya terjadi di zona transformasi. Sel yang mengalami mutasi disebut sel displastik dari kelainan epitelnya disebut displasia).(Neoplasia Intra-epitel Serviks/ NIS)
Berikut adalah tahapan perkembangan kanker serviks.
1)      Displasia (ringan, sedang, berat). Lesi displasia sering disebut dengan “lesi pra kanker”, yaitu kelainan pertumbuhan sel yang perkembangannya sangat lambat.
2)      Displasia kemudian berkembang menjadi karsinoma in-situ (kanker yang belum menyebar)
3)      Akhirnya menjadi karsinoma invasif (kanker yang dapat menyebar). Perkembangan displasia menjadi kanker membutuhkan waktu bertahun-tahun (7-15 tahun).
3.      Faktor Resiko
Beberapa faktor risiko dan predisposisi yang menyebabkan perempuan terpapar HPV (sebagai etiologi kanker serviks) diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Menikah atau memulai aktivitas seksual pada usia muda. Penelitian menunjukan bahwa semakin muda perempuan melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks.
b.      Jumlah kehamilan dan partus. Kanker serviks terbanyak dijumpai pada perempuan yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan tidak mendapat karsinoma serviks.
c.       Perilaku seksual. Berdasarkan penelitian, risiko kanker serviks meningkat lebih 10 kali bila berhubungan dengan enam atau lebih mitra seks, atau bila hubungan seks pertama dibawah usia 15 tahun. Risiko juga meningkat bila berhubungan seks dengan laki laki beresiko tinggi (laki-laki yang berhubungan seks dengan banyak perempuan), atau laki-laki yang mengidap penyakit “jengger ayam” (kondiloma akuminatum) di zakarnya (penis).
d.      Riwayat infeksi didaerah kelamin dan radang panggul. Infeksi menular seksual (IMS) dapat menjadi peluang meningkatnya risiko terkena kanker serviks.
e.       Sosial ekonomi. Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas, dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
f.       Higiene dan sirkumsisi. Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kanker serviks pada perempuan yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkumsisi, higiene penis tidak terawat sehingga banyak terdapat kumpulan smegma.
g.      Merokok. Didalam rokok terkandung nikotin dan zat lainnya yang terdapat didalam rokok. Zat-zat tersebut dapat menurunkan daya tahan serviks dan menyebabkan kerusakan DNA epitel serviks sehingga timbul kanker serviks.
h.      Pemakaian alat kontrasepsi
i.        Defisiensi zat gizi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan resiko terjadinya NIS1 dan NIS2, serta mungkin juga meningkatkan risiko terkena kanker serviks pada wanita yang rendah konsumsi beta karoten dan vitamin (A,C dan E). (Intan Kumalasari, 2012 : hal 88)
4.      Gejala
Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak menimbulkan gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan pap smear. Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala sebagai berikut :
a.       Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah melakukan hubungan seksual dan setelah menopause.
b.      Menstruasi abnormal (lebih banyak dan lebih lama)
c.       Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer , berwarna pink, coklat, mengandung darah atau hitam serta berbau busuk.
Gejala dari kanker serviks stadium lanjut :
a.       Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan.
b.      Nyeri panggul, punggung atau tungkai
c.       Dari vagina keluar air kemih atau tinja
d.      Patah tulang (fraktur) (Aden Ranggiasanka, 2010: hal 77)



5.      Keadaan Prekanker Pada Serviks
Sel sel pada permukaan serviks kadang tampak abnormal tetapi tidak ganas. Para ilmuwan yakin bahwa beberapa perubahan abnormal pada sel –sel serviks merupakan langkah awal dari serangkaian perubahan yang berjalan lambat, yang beberapa tahun kemudian bisa menyebabkan kanker. Karena itu beberapa perubahan abnormal merupakan keadaan pre kanker, yang bisa berubah menjadi kanker.
Saat ini telah digunakan istilah yang berbeda untuk perubahan abnormal pada sel-sel di permukaan serviks, salah satu diantaranya adalah lesi skuamosa intraepitel (lesi artinya kelainan jaringan, intraepitel artinya sel sel abnormal hanya ditemukan dilapisan permukaan).

Perubahan pada sel-sel ini bisa dibagi kedalam 2 kelompok :
a.       Lesi tingkat rendah : merupakan perubahan dini pada ukuran, bentuk dan jumlah sel yang membentuk permukaan serviks. Beberapa lesi tingkat rendah menghilang dengan sendirinya. Tetapi yang lainnya tumbuh menjadi lebih besar dan lebih abnormal, membentuk lesi tingkat tinggi. Lesi tingkat rendah juga disebut displasia ringan atau neoplasia intraepitel servikal 1 (NIS1). Lesi tingkat rendah paling sering ditemukan pada wanita yang berusia 25-35 tahun, tetapi juga bisa terjadi pada smeua kelompok umur.
b.      Lesi tingkat tinggi : ditemukan sejumlah besar sel prekanker yang tampak sangat berbeda dari sel yang normal. Perubahan prekanker ini hanya terjadi pada sel dipermukaan serviks. Selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sel-sel tersebut tidak akan menjadi ganas dan tidak akan menyusup kelapisan serviks yang lebih dalam. Lesi tingkat tinggi juga disebut displasia menengah atau displasia berat , NIS 2 atau 3, atau karsinoma in situ. Lesi tingkat tinggi paling sering ditemukan pada wanita yang berusia 30-40 tahun
Jika sel-sel abnormal menyebar lebih kedalam serviks atau kejaringan maupun organ lainnnya, maka keadaannya disebut kanker serviks atau kanker serviks invasif. Kanker serviks paling sering ditemukan pada usia 40 tahun. (Aden Ranggiasanka, 2010: hal 76).

   Description: img146
Gambar 2.4 Perbedaan Serviks Norml dan Terdapat Lesi Prakanker
          (Imam Rasjidi , 2009 : hal 116)

6.      Pencegahan dan Deteksi Dini
Bagi wanita semua umur, membatasi jumlah pasangan seks dan penggunaan kontrasepsi penghalang, seperti kondom dan diafrgama, sangat dianjurkan untuk mnegurangi terjadinya kanker serviks. Modifikasi pola makan yang dapat mengurangi resiko kanker serviks di antaranya dengan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin a dan c serta asam folat. Selain itu dengan menghentikan tembakau dan alkohol (Shirley, 2005: hal 158).
Menurut Faisah dalam buku Waspada Kanker Serviks, vaksin merupakan pencegahan kanker serviks yang baik. Bagi wanita yang belum pernah berhubungan seks, atau anak-anak perempuan yang ingin terbentengi dari serangan virus HPV, bisa menjalani vaksinasi HPV. Vaksin HPV dapat mencegah infeksi HPV tipe 16 dan tipe 18. Dan dapat diberikan mulai dari usia 9-26 tahun, dalam bentuk suntikan sebanyak 3 kali (0-2-6)
Pencegahan kanker serviks merupakan tindakan preventif sekunder,  yaitu deteksi lesi prakanker melalui test pap amear, serta Inspeksi Visual  dengan Asam Asetat (IVA) dan rangkaian tindak lanjut, misalnya pemeriksaan kolposkopi dan biopsi. Berikut akan dijelaskan lebih rinci pemeriksaan tersebut :



a.       Test Pap Smear
Tes Pap smear adalah salah satu deteksi dini terhadap kanker serviks yang sering dilakukan. Pada prinsipnya , pap semar adalah mengambil sel epitel yang ada di leher rahim yang kemudian dilihat kenormalannya.
b.      Tes Pap Smear metode SSBC/LBC (Sutologi Serviks Berbasis Cairan/Liquid Base Cytology)
Pemeriksaan seperti ini seperti pemeriksaan pap smear. Hasil pengambilan sel sel mulut rahim dilarutkan lebih dulu pada suatu cairan, kemudian dibuat hapusan dan dibaca dibawah mikroskop. Dengan tekhnik baru ini, keakuratan hasil pemeriksaan lebih tinggi walaupun biayanya lebih mahal.
c.       Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA)
Metode IVA ini sangat cocok di aplikasikan di negara berkembang karena selain lebih mudah, murah, efektif, tidak invasif, juga dapat dilakukan langsung oleh dokter, bidan atau paramedis. Hasilnya pun bisa didapat dan sensitivitas serta spesifitasnya cukup baik. Alat yang diperlukan sangat sederhana, yaitu spekulum vagina, asam asetat 3-5%, kapas lidi, meja pemeriksaan, sarung tangan bersih (lebih baik steril) dan dilakukan pada kondisi ruag yang terang atau cukup cahaya. Pemeriksaan IVA ini merupakan program skrinning untuk menemukan tahap prekanker serviks. Hal ini penting karena sampai saat ini masih banyak ditemukan kanker serviks pada stadium lanjut. (Samadi, 2011; hal.38).
d.      Kolposkopi
Kolposkopi adalah pemeriksaan mulut rahim dengan kamera pembesaran untuk mendeteksi serta melakukan tindakan terapi pada pasien dengan kanker serviks uteri. Dan hasil kolposkopi ini bisa dicetak untuk dokumen medis. (Samadi, 2011: hal.29-40).
7.      Pengobatan Kanker Serviks
a.       Pengobatan Lesi Prekanker
Pengobatan lesi prekanker pada serviks tergantung beberapa faktor berikut :
1)      Tingkatan lesi ( apakah tingkat rendah atau tinggi)
2)      Rencana penderita untuk hamil lagi
3)      Usia dan keadaan umum penderita
Lesi tingkat rendah biasanya tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut, terutama jika daerah yang abnormal seluruhnya telah diangkat pada waktu pemeriksaan biopsi. Tetapi penderita harus memeriksakan secara rutin.
     Pengobatan pada lesi prakanker bisa berupa :
1)      Kriosurgeri (pembekuan)
2)      Kauterisasi (pembakaran juga disebut diatermi)
3)      Pembedahan laser untuk menghancurkan sel sel yang abnormal tanpa melukai jaringan yang sehat dan sekitarnya
4)      LEEP ( loop electrosurgical excision prosedure)atau konisasi
Setelah menjalani pengobatan, penderita mungkin akan merasakan kram atau nyeri lainnya, perdarahan maupun cairan encer dari vagina. Pada beberapa kasus mungkin perlu dilakukan histeroktomi (pengangkatan rahim) terutama jika sel-sel abnormal ditemukan didalam lubang serviks. Histerektomi dilakukan jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi.
b.      Pengobatan untuk Kanker Serviks
Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada lokasi dan ukuran tumor, stadium penyakit, usia keadaan umum penderita dan rencana penderita untuk hamil lagi.
1)      Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar). Seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun dengan melalui LEEP. Dnegan pengobatan tersebut , penderita masih bisa memiliki anak. Karena kanker dapat kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak ada rencana untuk hamil lagi dianjurkan untuk menjalani histerektomi.
Pada kanker invasif, dilakukan histerektomi dan pengangkatan struktur disekitarnya (histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening. Pada wanita muda ovarium yang normal dan masih berfungsi tidak diangkat.
2)      Terapi penyinaran
Terapi penyinaran (radioterapi)  efektif untuk mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya.
Ada dua macam radioterapi :
a)      Radiasi eksternal : sinar berasal dari sebuah mesin besar. Penderita tidak perlu dirawat dirumah sakit. Penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu.
b)      Radiasi internal : zat radioaktif didalam sebuah kapsul dimasukkan langsung kedalam serviks. Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat dirumah sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2 minggu.
Efek samping penyinaran adalah :
(1)   Iritasi rektum dan vagina
(2)   Kerusakan kandung kemih dan rektum
(3)   Ovarium berhenti berfungsi
3)      Kemoterapi
Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan untuk  menjalani kemoterapi. Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel sel kanker. Obat anti kanker bisa diberikan melalui suntikan intravena atau melalui mulut. Kemoterapi diberikan dalam suatu siklus, artinya suatu periode pengobatan diselingi dengan periode pemulihan, lalu dilakukan pengobatan diselingi dengan pemulihan, begitu seterusnya.
4)      Terapi Biologis
Pada terapi biologis digunakan zat-zat  untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh dengan melawan penyakit. Terapi biologis dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Yang paling sering dilakukan adalah interferon, yang biasa dikombinasikan dengan kemoterapi. (Taufan Nugroho, 2014 :hal 6-8)

B.     Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) Test
1.      Pengertian Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA)Test
IVA singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat, yaitu suatu metode pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim menggunakan lidi wotten yang telah dicelupkan kedalam asam asetat/asam cuka 3-5% dengan mata telanjang. Daerah yang tidak normal akan berubah menjadi putih (acetowhite) dengan batas yang tegas, dan mengindikasikan bahwa serviks mungkin memiliki lesi prakanker. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks. (Intan Kumalasari, 2012 : hal 96)
Kriteria pemeriksaan IVA atau hasil pemeriksaan IVA dikelompokkan sebagai berikut :
a.       IVA negatif = menunjukkan leher rahim normal.
b.      IVA radang = serviks dengan radang ( servisitis), atau kelainan jinak lainnya (polip serviks).
c.       IVA positif = ditemukan bercak putih. Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan skrinning kanker serviks dengan metode IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis serviks – pra kanker (displasia ringan-sedang-berat atau kanker in situ)
d.      IVA-kanker serviks = pada tahap ini pun , untuk upaya penurunan temuan stadium kanker serviks, masih akan bermanfaat bagi penurunan kematian akibat kanker serviks bila ditemukan masih pada stadium invasif dini ( stadium IB dan IIA) . (Marmi, 201: hal 273-274).
Pemeriksaan IVA dianjurkan untuk fasilitas dengan sumber daya yang rendah bila dibandingkan dengan jenis skrinning yang lain, karena :
a.       Mudah dilakukan, aman, dan tidak mahal
b.      Akurasinya sama dengan tes tes yang lain
c.       Dapat dipelajari dan dilakukan oleh hampir semua tenaga kesehatan yang sudah terlatih
d.      Dapat dilakukan disemua jenjang pelayanan kesehatan (rumahsakit, puskesmas, pustu, polindes, dan klinik dokter spesialis, dokter umum dan bidan)
e.       Langsung ada hasilnya sehingga dapat segera dilakukan pengobatan dengan krioterapi yaitu dengan pembekuan serviks berupa penerapan pendinginan secara terus menerus selama 3 menit untuk membekukan (freeze) dan diikuti dengan pencairan selama 5 menit, kemudian diikuti dengan pembekuan lagi selama 3 menit dengan menggunakan CO2 atau NO2 sebagai pendingin
f.       Sebagian besar peralatan dan bahan untuk pelayanan mudah didapat
g.      Tidak bersifat invasif dan dapat mengidentifikasikan lesi prakanker secara efektif. (Intan Kumalasari, 2012: hal. 97)
2.      Tujuan IVA
Untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan. Untuk mengetahui kelainan yang terjadi pada leher rahim. (Marmi, 2013: hal. 271)
3.      Keuntungan IVA
a.       Mudah, praktis dan mampu laksana
b.      Dapat dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan
c.       Alat-alat yang dibutuhkan sederhana
d.      Sesuai untuk pusat pelayanan sederhana
e.       Kinerja tes sama dengan tes lain
f.       Memberikan hasil segera sehingga dapat diambil keputusan mengenai penatalaksanaannya. (Marmi, 2013: hal. 271)
4.      Jadwal IVA
a.       Skrining pada setiap wanita minimal 1 kali pada usia 35-40 tahun.
b.      Kalau fasilitas memungkinkan lakukan tiap 10 tahun pada usia 35-55 tahun.
c.       Kalau fasilitas tersedia lebih lakukan tiap 5 tahun pada usia 35-55 tahun
d.      Ideal dan optimal pemeriksaan dilakukan setiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun’
e.       Skrining yang dilakukan sekali dalam 10 tahun atau sekali seumur hidup memiliki dampak yang cukup significant.
f.       Di Indonesia anjuran untuk melakukan IVA bila hasil positif (+) adalah 1 tahun dan bila hasil negatif (-) adalah 5 tahun. (Marmi, 2013: hal. 271)
5.      Syarat Mengikuti Tes IVA
a.       Sudah pernah melakukan hubungan seksual
b.      Tidak sedang datang bulan atau haid
c.       Tidak sedang hamil
d.      24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual. (Marmi, 2013: hal. 272)
6.      Penilaian Klien
Tanyakan riwayat singkat kesehatan reproduksinya, antara lain :
a.       Riwayat Menstruasi (usia < 12 tahun)
b.      Pola pendarahan (misal pasca koitus atau menstruasi tidak teratur)
c.       Paritas
d.      Usia pertama kali berhubungan seksual
e.       Penggunaan alat kontrasepsi
7.      Pelaksanaan Skrinning IVA
a.       Untuk melaksanakan skrinning dengan metode IVA, dibutuhkan tempat dan alat sebagai berikut :
1)      Ruangan tertutup, karena pasien diperiksa dengan posisi litotomi.
2)      Meja atau tempat tidur periksa yang memungkinkan pasien berada pada posisi litotomi.
3)      Terdapat sumber cahaya untuk melihat serviks
4)      Spekulum vagina
5)      Asam asetat (3-5%)
6)      Swab- lidi berkapas
7)      Sarung tangan.
b.      Cara kerja IVA
1)      Sebelum dilakukan pemeriksaan pasien akan mendapat penjelasan mengenai prosedur yang akan dijalankan . privasi dan kenyamanan sangat penting dalam pemeriksaan ini.
2)      Pasien dibaringkan dengan posisi litotomi ( berbaring dengan dengkul ditekuk dan kaki melebar).
3)      Vagina akan dilihat secara visual apakah ada kelainan dengan bantuan pencahayaan yang cukup.
4)      Spekulum (alat pelebar) akan dibasuh dengan air hangat dan dimasukkan ke vagina pasien secara tertutup , lalu dibuka untuk melihat leher rahim.
5)      Bila terdapat banyak cairan di leher rahim, dipakai kapas steril basah untuk menyerapnya.
6)      Dengan menggunakan pipet atau kapas, larutan asam asetat (3-5%) diteteskan keleher rahim. Dalam waktu satu menit , reaksinya pada leher rahim sudah dapat dilihat.
7)      Bila warna leher rahim berubah menjadi keputih-putihan, kemungkinan positif terdapat kanker. Asam asetat berfungsi menimbulkan dehidrasi sel yang membuat penggumpalan protein , sehingga sel kanker yang berkepadatan protein tinggi berubah warna merah jadi putih.
8)      Bila tidak didapatkan gambaran epitel putih pada daerah transformasi berarti hasilnya negatif.
    Description: img139
Gambar 2.5 Mengusapkan Asam Asetat Menggunakan Swab Lidi Berkapas
(Marmi, 2013 : hal 272)
c.       Penatalaksanaan IVA
1)      Pemeriksaan IVA dilakukan dengan spekulum melihat langsung leher rahim yang telah dipulas dengan larutan asam asetat (3-5%). Jika ada perubahan warna atau tidak muncul plak putih, maka hasil pemeriksaan dinyatakan negatif. Sebaliknya jika leher rahim berubah warna menjadi merah dan timbul plak putih, maka dinyatakan positif lesi atau kelainan pra kanker.
2)      Namun jika masih tahap lesi, pengobatan cukup mudah, bisa langsgung diobati dengan metode krioterapi atau gas dingin yang menyemprotkan gas CO2 atau N2 ke leher rahim. Sensitivitasnya lebih dari 90% dan spesifitasinya sekitar 40% dengan metode diagnosis yang hanya membutuhkan waktu sekitar dua mneit tersebut, lesi prakanker bisa dideteksi secara dini. Dengan demikian bisa segera ditangani dan tidak berkembang menjadi kanker stadium lanjut.
3)      Metode krioterapi adalah membekukan serviks yang terdapat lesi prakanker pada suhu yang amat dingin (dengan gas CO2) sehingga sel sel pada area tersebut mati dan luruh, dan selanjutnya akan tumbuh sel-sel baru yang sehat.
4)      Kalau hasil dari tes IVA dideteksi adanya lesi prakanker, yang terlihat dari adanya perubahan dinding leher rahim dari merah muda menjadi warna putih, artinya perubahan sel akibat infeksi tersebut baru terjadi disekitar epitel. Itu bisa dimatikan atau dihilangkan dengan dibakar atau dibekukan. Dengan demikian, penyakit kanker yang disebabkan human papiloma virus (HPV) itu tidak jadi berkembang dan merusak organ tubuh yang lain.
                                       Description: img145
     Gambar 2.6 Atlas Inspeksi Visual Asam Asetat
        (Imam Rasjidi , 2009 : hal 13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar